Kau biasa dengan beban
Karena beban tak lebih berat dari tanggung jawabmu
Kau biasa dengan belati
Karena belati tak lebih tajam dari perkataanku
Kau biasa dengan lapar
Karena lapar tak lebih perih dari perlawananku
Kau ajariku melihat
Tapi mengapa tutup?
Kau ajariku mendengar
Tapi mengapa diam?
Kau ajariku merasa
Tapi kenapa simpan?
Ibu...ayah.....
Bagi rasa itu bersamaku
Bagi ceritamu padaku
Aku sudah dewasa untuk mendengarmu
Dan aku bukan anak-anak yang percaya kepuraanmu
Karena hati tak bisa terbendung jika sadar semua itu
.
.
.
Karena beban tak lebih berat dari tanggung jawabmu
Kau biasa dengan belati
Karena belati tak lebih tajam dari perkataanku
Kau biasa dengan lapar
Karena lapar tak lebih perih dari perlawananku
Kau ajariku melihat
Tapi mengapa tutup?
Kau ajariku mendengar
Tapi mengapa diam?
Kau ajariku merasa
Tapi kenapa simpan?
Ibu...ayah.....
Bagi rasa itu bersamaku
Bagi ceritamu padaku
Aku sudah dewasa untuk mendengarmu
Dan aku bukan anak-anak yang percaya kepuraanmu
Karena hati tak bisa terbendung jika sadar semua itu
.
.
.
Comments
Post a Comment